Manusia

Manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah agar menjadi Kholifah yang bertugas untuk menjaga, merawat, mengelola, mengolah dan mengurus Bumi yang telah ditumbuhkan oleh Allah SWT dengan berbagai fasilitas kenikmatan hidup yang maha luas tak terbatas. Sebagai bekal kekholifahan manusia atas bumi ini, Allah SWT telah menciptakan manusia dengan wujud jatidiri dan akal pikiran yang sempurna dibandingkan dengan mahluk lainnya. Yaitu dengan cara Allah SWT meniupkan sebagian dari Ruh-Nya ke dalam jiwa raga manusia saat masih berupa janin di dalam rahim seorang ibu.

Betapa bekal yang telah Allah SWT anugerahkan kepada manusia teramat sangat luar biasa dahsyat, bahkan jika kita mau menggali dan mengkaji potensi kekuatan jatidiri sejati manusia yang saat ini masih tersimpan di alam bawah sadarnya, maka kita kita akan mengetahui dan merasakan berada di dalam Laboratorium Bumi Alam Semesta Raya, dimana seluruh titik ordinat yang ada di jagat alam semesta raya ini, seluruhnya terkoneksi ke dalam jiwa raga dan akal pikiran manusia.

Dimana sebagai seorang kholifah atas bumi ini, berarti manusia adalah Wakil dari Allah SWT untuk Memimpin bumi ini, yaitu memimpin seluruh unsur kehidupan yang ada di bumi ini, baik unsur lahir maupun unsur bathin, dan di bumi ini kita mengenal dan mengetahui adanya unsur lahir yang terdiri dari manusia itu sendiri, beraneka macam jenis binatang, beraneka tumbuh-tumbuhan, air (lautan, sungai, danau, telaga, sumur), tanah (daratan, lembah, pegunungan), api (panas bumi), angin (udara), awan, cahaya alam (matahari, bulan, bintang, planet, galaksi, dll).

Manusia juga memimpin unsur kehidupan bathin seperti malaikat, iblis, syetan, jin, siluman dan leluhur manusia yang meninggal atau mati dari masa terdahulu hingga saat ini, dan berbagai kehidupan bathin/gaib lainnya yang seharusnya mereka semua adalah fasilitas kenikmatan dari Allah SWT, yang sangat bisa didayagunakan oleh manusia dalam peran dan tugas Kekholifahannya atas bumi alam ini.

Dengan kesempurnaan bekal yang telah dianugerahkan oleh Allah SWT yang sangat luar biasa tersebut, sesungguhnya tidak alasan bagi manusia untuk mengingkari atau mengkhianati Nya. Mengkhianati amanat jiwa raga diri manusia itu sendiri, mengkhianati jiwa raga bumi, dan mengkhianati amanat surga bumi yang telah menumbuhkan berbagai fasilitas kenikmatan hidup yang maha luas tak terbatas ini.

Oleh karena itu, sesungguhnya tidak layak bagi manusia untuk merengek, menangis, menghiba dan memohon kepada Allah SWT agar diberikan kehidupan surga yang kekal abadi, karena amanat kehidupan surga bumi yang sangat jelas nampak terlihat, terdengar dan terasakan saja telah dikhianati, diingkari dan disa-siakan. Sehingga manusia selama ribuan tahun dari masa terdahulu hingga saat ini masih terus merengek dan menghiba pada Allah SWT. Apakah ini yang disebut dan dinamakan sebagai orang yang beriman dan bersyukur…????

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: