Kiamat

Entah sudah berapa puluh ribu atau beratus ribu tahun lamanya manusia menunggu datangnya hari kiamat yang diartikan sebagai hari hancur leburnya bumi alam semesta raya ini dengan seluruh unsur kehidupan yang ada di dalamnya, karena keyakinan manusia setelah hari kiamat ini manusia akan dihisab, ditentukan atau ditimbang segala amal kebaikan dan keburukannya, sebagai penentu atas surga atau nerakanya kehidupan yang akan didapatkan selanjutnya.

Jika keyakinan ini benar, sungguh sangat menyedihkan manusia yang telah mati ribuan tahun yang lalu, yang selama hidupnya bergelimangan dengan noda dan dosa,  karena sampai dengan detik ini pun mereka masih harus mengalami siksa kubur yang berkepanjangan, padahal dosa yang mereka perbuat hanyalah seumur hidupnya di dunia ini, yang mungkin hanya puluhan atau ratusan tahun.

Kemudian jika kita kembali pada kodrat kekholifahan manusia atas bumi ini, yang memiliki amanat, tugas, peran dan tanggung jawab untuk mengurus, mengatur, mengelola, mengolah, menjaga dan melestarikan bumi ini, lantas apakah bumi ini kemudian harus dihancur leburkan dengan keyakinan manusia yang telah menjadi keimanan yang wajib dimiliki oleh orang-orang yang beriman? Tugas manusia ini melestarikan atau mengkiamatkan bumi? Implementasi iman itu kan dengan sikap dan perbuatan yang nyata, bukan sekedar yakin atau asal percaya?

Oleh karena itu, Ustad Cowboy ini tidak akan membahas sesuatu yang belum jelas atau masih fatamorgana dan masih perlu dikaji ulang hakekat maknanya, yang perlu dibahas adalah bagaimana sikap seorang Kholifah atas bumi ini, karena sekalipun bumi alam semesta raya ini hendak dihancur leburkan oleh Sang Pemilik yaitu Allah SWT, itu Hak Allah SWT karena memang itu Milik-Nya, jadi mungkin kita tidak perlu banyak mencampuri Urusan-Nya. Yang perlu dilakukan manusia adalah menjalankan amanat, tugas, peran dan tanggung jawab sebagai seorang Kholifah Bumi, yang kembali kami tegaskan adalah untuk mengurus, menjaga, melindungi dan melestarikan bumi ini.

Sehingga dalam hal ini, Ustad Cowboy Gus Yan menafsirkan kiamat sebagai tamat dan berakhirnya era atau masa kejahiliyahan, masa kebodohan dan kesesatan akal pikiran menuju terang benderangnya cahaya kehidupan yang surgawi, yaitu cahaya surga bumi yang secara otomatis akan mengantarkan manusia pada kehidupan surga yang kekal abadi bersama Allah SWT.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: