Kematian

انا لله وانا اليه راجعون

Innalillahi Wainna ilaihi roji’un

Sesungguhnya kami ini milik Allah dan sesungguhnya kepada Allah jualah kami kembali

Manusia mati atau pun hidup tetaplah milik Allah SWT, yang harus disadari sepenuhnya dengan mengembalikan segenap jiwa raga diri, segenap rasa hati, segenap rasio pikiran dan segenap gerak raga jasmaninya kepada Sang Pemilik Seluruh Jiwa Bumi Alam Semesta Raya ini.

Artinya manusia janganlah sewenang-wenang hidup di bumi ini, karena bumi ini milik Allah SWT yang telah menjadikan manusia sebagai Wakil-Nya di bumi ini, sehingga bumi ini pun menjadi milik bersama antara manusia yang satu dengan yang lainnya, oleh karenanya harus bekerja sama, bergotong-royong, tolong menolong, bantu membantu, bahu membahu, saling menerima dan memberi, saling memperbaiki, saling melengkapi dan menyempurnakan satu dengan yang lainnya.

Tidak boleh berselisih, tidak boleh berkelahi, tidak boleh bermusuhan dan berperang hanya karena mengikuti nafsu, ego dan emosi diri dengan berebut wilayah, berebut kekuasaan, berebut kedudukan, berebut jabatan,  berebut uang, harta kekayaan, berebut wanita atau laki-laki.

Ingatlah bahwa bumi ini telah menumbuhkan berbagai fasilitas kenikmatan hidup yang maha luas tak terbatas, yang tidak akan pernah habis walau untuk generasi jutaan tahun kedepan. Kekayaan alam yang tersedia di bumi ini yang berhasil diexploitasi masih belum ada Satu persen (1 %) nya, begitu pun wilayah bumi ini yang masih teramat sangat luas.

Manusia lah yang salah dalam mengatur dan menatanya, manusia lah yang lebih senang hidup berdesak-desakan, berhimpit-himpitan mengumpul di wilayah perkotaan yang sempit dan pengap. Manusia lah yang telah memilih dan menentukan jalan hidupnya yang sulit dan sempit. Sementara Allah SWT telah menciptakan bumi ini sebagai taman surga, telah menciptakan akal pikiran yang sempurna pada manusia, agar dengan kecerdasan akal pikirannya, manusia bisa mengembangkan seluruh potensi yang ada menjadi sarana atau alat teknologi yang berfungsi untuk mempermudah dan mempercepat terpenuhinya seluruh kebutuhan atau keinginan hidupnya.

Jika manusia telah meraih kesempurnaan hidup di dunia ini, yaitu telah jenuh dengan berbagai kenikmatan yang ada di bumi alam semesta raya ini, artinya telah mengimplementasikan hakekat syukur dengan sebenarnya, maka otomatis di kehidupan akhirat pun manusia akan mendapatkan kenikmatan atau surga yang kekal abadi bersama-Nya. Manusia akan meninggalkan dunia ini dengan penuh kepuasan, akan tersenyum bahkan tertawa karena dijemput oleh para malaikat yang benar-benar memulyakan jatidiri manusia, bukan dengan jalan dipaksa, dalam ketidak sadaran, atau ketidak berdayaan. Karena para malaikat akan memperlakukannya dengan penuh rasa hormat kepada seorang Raja atau Kholifah Bumi.

Karena kematian adalah proses perpindahan dimensi, dari dimensi alam fisik, alam raga atau alam lahiriah, ke alam bathin yang jauh lebih luas, jauh lebih dalam dan jauh lebih tinggi. Dengan kematian manusia yang sempurna, yaitu yang menyadari dan menerapkan kekholifahannya atas bumi ini, maka seluruh penduduk alam bathin pun akan menyambutnya dengan penuh rasa hormat yang tinggi, dan Allah SWT pun akan menempatkannya dalam kedudukan yang tertinggi, yaitu bersanding dengan-Nya, karena telah menjalankan amanat, peran, tugas dan tanggung jawab sebagai seorang Kholifah Bumi dengan benar, baik dan sempurna.

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: