Hakekat Syukur


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Alhamdulillah.. Wasyukurillah… Wanikmatillah

Saudara-saudara kaum muslimin dan mukminin yang dimulyakan oleh Allah SWT, artinya kami tujukan kepada orang-orang muslim atau Islam, juga orang-orang mukmin yaitu orang-orang yang beriman dengan adanya Allah SWT Tuhan Semesta Alam ini.

Ungkapan syukur bukanlah sekedar ucapan secara lisan, baik lisan mulut, lisan hati maupun lisan pikiran, artinya hanya sekedar mengucapkan kalimat baik di mulut, di hati maupun dipikiran, tapi jauh lebih dari itu yaitu dengan menikmati apa pun yang saat ini tersedia dan tersaji untuk kita semua, misalnya dalam hal makanan yang ada pada saat ini yang disajikan oleh istri tercinta hanya ada ikan asin, tempe dan tahu, ya kita harus menikmatinya sebagai anugerah dan karunia dari Allah SWT, jika tidak ada sajian apa-apa karena memang tidak ada persediaan, ya tetap harus dinikmati, minimalnya masih diberi hidup, masih diberi peluang, masih diberi kesempatan dan masih diberi waktu, diberi kekuatan dan tenaga untuk berusaha dan berupaya untuk mendapatkan yang lebih baik dari saat ini.

Ungkapan syukur yang jauh lebih baik dan lebih tinggi lagi dari itu adalah dengan memberikan atau membagikan kenikmatan yang kita dapatkan dan rasakan kepada orang lain, baik pada anggota keluarga kita sendiri, pada saudara, pada sahabat, pada tetangga atau pada siapa pun, tentunya yang membutuhkan uluran tangan dari kita.

Ungkapan syukur yang jauh lebih baik dan lebih tinggi lagi nilainya adalah dengan menciptakan dan mewujudkan berbagai kenikmatan atau surga bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan dunia. Dengan syukur ini, saudara-saudara tidak perlu memohon, berharap dan berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan kehidupan surga yang kekal abadi bersamaNya, pasti kita pun akan mendapatkannya secara otomatis, karena kita sudah jelas sebagai Ahli Surga, karena terbukti kita telah menciptakan dan mewujudkan kehidupan surga itu sendiri, tanpa kita harus merengek, menangis, menghiba dan memohon untuk diberikan surga. Dan karena kita sudah mengimplementasikan prinsip-prinsip kehidupan surga secara nyata dalam kehidupan kita sehari-hari, artinya bahwa kita telah menerapkan hakekat syukur yang sebenarnya, kita telah menjadi ahli syukur yang sesungguhnya sehingga pasti kita pun menjadi ahli surga yang kekal abadi bersama-Nya.

Sekarang saya bertanya pada anda semua, lebih tinggi mana nilainya antara kita memberi dan diberi? apalagi diberinya karena kita merengek, menangis, menghiba dan memohon? Sekali pun permohonan itu ditujukan kepada Allah SWT, tetaplah jauh lebih tinggi nilainya jika kita menciptakan dan mewujudkan surga sendiri, artinya kita telah memberi kehidupan surga pada diri kita sendiri, apalagi membagikan surga kepada yang lainnya.

Karena realitanya Allah SWT telah menciptakan, menyediakan dan menyajikan berbagai fasilitas kenikmatan hidup yang maha luas tak terbatas di bumi alam semesta raya ini, dimana seluruh kebutuhan hidup kita semua, seluruh keinginan dan cita-cita, seluruh harapan dan doa, seluruh yang dijanjikan oleh Allah SWT tentang kehidupan surga, seluruhnya ada tersedia dan tersaji di bumi alam semesta raya ini. Sehingga tidak alasan bagi manusia untuk mengingkari atau mengkhianatinya.

Saya kembali bertanya pada anda, adakah yang tidak ada di bumi ini, dari seluruh kebutuhan hidup manusia? dari seluruh keinginan, cita-cita, harapan dan doa manusia? Adakah yang tidak ada?

Yang tidak ada atau belum ada, hanyalah rasa tahu diri dan rasa syukur manusia yang tidak mampu melihat, mendengar, memahami dan merasakan hamparan bumi yang maha luas ini adalah taman kehidupan syurga yang sangat nyata, sangat jelas dan sangat bisa dirasakan oleh hati, pikiran dan raga kita semua.

Yang tidak ada atau belum ada, hanyalah upaya manusia untuk mewujudkan kehidupan surga bagi bersama, yaitu dengan memperbaiki, membenahi dan melengkapi segala kekurangan, segala kesalahan dan segala kelemahan yang selama ini terjadi.

Kalau begitu, maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang kalian dustakan “fabiayyi ala irobbikuma tukadziban” dalam surat Ar-Rahman berkali-kali ayat ini ditegaskan oleh Allah SWT. Kenapa Allah SWT mengulanginya berkali-kali, karena begitu mengasihi dan menyayanginya Allah SWT pada manusia, agar kita tidak menjadi orang-orang yang dibutakan mata, ditulikan telinga, hati dan pikiran kita, sebagaimana Allah SWT mengingatkan kepada kita semua dengan firmanNya dalam (QS Al_Baqarah : 18) :

Subhanallah dan Masya Allah, semoga dengan ceramah singkat ini menjadi motivasi bagi kita semua, agar kita sadar dan bangkit untuk memperbaiki dan membenahi segala kelemahan, kekurangan dan kesalahan yang telah diri kita lalui, marilah kita semua membangun kehidupan surga yang kita harapkan dan cita-citakan bersama, dengan saling tolong menolong, bantu membantu, bahu membahu, bekerja sama dan bergotong royong tanpa membedakan suku, agama, ras, adat, budaya, dan bangsa apa pun, karena dihadapan Allah SWT kita semua sama, tidak ada yang berbeda, yang membedakan adalah dari diri kita sendiri, yang membedakan hanyalah frekuensi atau derajat kenikmatan yang didapatkan, dari kedekatannya dengan Allah SWT, jika kita merasakan jauh, maka  jauh pula dari kenikmatanNya.

Minimalnya dengan keterangan singkat ini, kita semua menjadi orang-orang yang benar-benar ahli syukur, yang melihat, mendengar, memahami dan merasakan berbagai fasilitas kenikmatan yang terhampar luas di bumi alam semesta raya ini, sehingga kita semua pun tidak terjebak dalam kekufuran dan kesesatan yang nyata.

Karena kita bukan hanya sekedar berharap dan berdoa memohon diberikan kehidupan surga, tapi kita lebih jauh dengan bersikap dan berbuat dengan implementasi nyata yaitu berusaha dan berupaya membangun dan mewujudkan kehidupan surga bagi diri dan bersama, bukan hanya sekedar memperbaiki ahlak, tapi jauh lebih dari itu yaitu memperbaiki hidup dan kehidupan yang didominasi dengan nerakawi menuju pada kehidupan yang surgawi. Amiin Ya Robbal Alamin…

Komentar ditutup.
%d blogger menyukai ini: